




For my children :
USE TIME WISELY...
DO YOUR BEST, KIDS !




OPERASI PENGGANTIAN SENDI LUTUT - PILIHAN TERAKHIR ?
___________
TENTANG OSTEOARTHRITIS GENU__________
____

OSTEOARTHRITIS
Pendahuluan
Di antara lebih dari 100 jenis penyakit sendi yang dikenal, osteoartritis
merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan. Penyakit ini bersifat
progresif lambat, umumnya terjadi pada usia lanjut, walaupun usia bukan satu
- satunya faktor resiko.
Osteoartritis menyerang sendi-sendi penopang tubuh seperti genu, pinggul,
bahu, jari tangan maupun tulang belakang. Di seluruh dunia diperkirakan 9,6%
pria dan 18% wanita diatas usia 60 tahun menderita osteoarthritis.
Sendi yang paling banyak mengalami osteoartritis adalah sendi lutut.
Hampir 80% osteoartritis pada usia diatas 60 tahun adalah osteoartritis genu.
Di RS Cipto Mangunkusumo, kekerapannya mencapai 56,7%.
Insidennya pada usia kurang dari 20 tahun hanya sekitar 10% dan meningkat
menjadi lebih dari 80% pada usia di atas 55 tahun.
Prevalensi osteoarthritis genu di Indonesia cukup besar.
Karena prevalensiyang cukup tinggi dan sifatnya yang kronik progresif,
osteoartritis mempunyai dampak sosial dan ekonomi yang cukup besar.
Diperkirakan satu sampai dua juta orang di indonesia menderita cacat
karena osteoartritis.
Pada masa yang akan datang tantangan terhadap dampak osteoartritis akan
lebih besar karena semakin banyak populasi yang berumur tua.
OSTEOARTHRITIS GENU - Pengapuran sendi lutut
Definisi
Osteoartritis genu adalah suatu penyakit sendi degeneratif yang berkaitan
dengan kerusakan kartilago sendi lutut, merupakan suatu penyakit kerusakan
tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan tidak diketahui penyebabnya,
meskipun terdapat beberapa faktor resiko yang berperan dan Keadaan ini
berkaitan dengan usia lanjut.
Anatomi
Sendi lutut merupakan gabungan dari tiga sendi yaitu patelofemoral,
tibiofemoral medial dan tibiofemoral lateral. Pada sendi tibiofemoral, terdapat
meniskus lateralis dan medial. Meniskus merupakan diskus fibrokartilago pipih
atau segitiga atau irreguler yang melekat pada kapsul fibrosa dan selalu pada
salah satu tulang yang berdekatan. Meniskus mengandung kolagen tipe I
sampai 60-90% sedangkan proteoglikan hanya 10%. Konstituen
glikosaminoglikan yang terbanyak adalah kondroitin sulfat dan dermatan sulfat
sedangkan keratan sulfat sangat sedikit. Selain itu fibrokartilago meniskus
juga lebih mudah membaik bila rusak.
Sendi lutut diperkuat oleh kapsul sendi yang kuat, ligamen kolateral dan
medial yang menjaga kestabilan lutut agar tidak bergerak ke lateral dan medial
juga ligamentum krusiatum anterior dan posterior yang menjaga agar tidak
terjadi hiperfleksi dan hiperekstensi sendi lutut. Fleksi lutut akan diikuti rotasi
interna tibia, sedangkan ekstensi lutut akan diikuti rotasi untuk memperbesar
momen gaya pada waktu lutut ekstensi sehingga kerja otot quadriceps femoris
tidak terlalu kuat.
Patofisiologi
Terdapat dua perubahan morfologi utama yang mewarnai osteoartritis yaitu
kerusakan tulang rawan sendi yang progresif dan pembentukan tulang baru
pada dasar lesi tulang rawan sendi dan tepi sendi (osteofit). Perubahan yang
lebih dulu timbul, sampai sekarang belum dimengerti.
Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa perubahan-perubahan metabolisme
tulang rawan sendi telah timbul sejak proses patologis osteoartritis.
Perubahan tersebut berupa peningkatan aktivitas enzim-enzim yang merusak
makromolekul matriks tulang rawan sendi (proteoglikan dan kolagen). Hal ini
menyebabkan penurunan kadar proteoglikan, perubahan sifat-sifat kolagen
dan berkurangnya kadar air tulang rawan sendi.
Saat ini osteoartritis tidak dipandang hanya sebagai proses degeneratif saja,
tetapi juga merupakan suatu penyakit dengan proses aktif. Dengan adanya
perubahan-perubahan pada makromolekul tulang rawan tersebut, sifat-sifat
biomekanis tulang rawan sendi akan berubah. Hal ini akan menyebabkan
tulang rawan sendi rentan terhadap beban biasa. Permukaan tulang rawan
sendi menjadi tidak homogen, terpecah belah dengan robekan-robekan dan
timbul ulserasi. Dengan berkembangnya penyakit, tulang rawan sendi dapat
hilang seluruhnya sehingga tulang dibawahnya menjadi terbuka.
Pembentukan tulang baru (osteofit) dipandang oleh beberapa ahli sebagai
suatu proses perbaikan untuk membentuk kembali persendian atau tepi sendi
dengan menambah luas permukaan sendi yang dapat menerima beban,
osteofit mungkin dapat memperbaiki perubahan-perubahan awal tulang rawan
sendi pada osteoartritis, akan tetapi kaitan yang sebenarnya antara osteofit
dengan kerusakan tulang rawan sendi belum jelas, oleh karena osteofit dapat
timbul pada saat tulang rawan sendi masih kelihatan normal.
Faktor resiko
Ada beberapa faktor risiko yang diketahui berhubungan erat dengan terjadinya
osteoartritis genu:
1. umur
dari semua faktor risiko timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang
terpenting. Prevalensi dan beratnya penyakit osteoartritis semakin meningkat
dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tidak pernah ditemukan pada
anak, jarang pada umur di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60
tahun. Penderita osteoartritis genu meningkat pada usia lebih dari 65 tahun,
baik secara klinik, maupun radiologik. Gambaran radiologik yang berat (grade
III dan IV menurut kriteria Kell-green-Lawrence) makin meningkat dengan
bertambahnya umur, yaitu 11,5% pada usia kurang dari 70 tahun, 17,8% pada
umur 7079 tahun dan 19,4% pada usia lebih dari 80 tahun; wanita yang
mempunyai gambaran radiologik osteoartritis berat adalah 10,6% pada umur
kurang dani 70 tahun,
17,6% pada umur 70-79 tahun dan 21,1% pada umur lebih dari 80 tahun;
sedangkan pada laki-laki 12,8% pada umur kurang dari 70 tahun,
18,2% pada umur 70 - 79 tahun dan 17,9% pada umur lebih dari 80 tahun.
Prevalensi radiologik osteoartritis akan meningkat sesuai dengan umur.
Pada umur di bawah 45 tahun jarang didapatkan gambaran radiologik yang berat.
Pada usia tua gambanan radiologik osteoartritis genu yang berat mencapai 20%.
Pada penelitian lain didapatkan bahwa dengan makin meningkatnya umur,
maka beratnya osteoartritis secara radiologik akan meningkat secara eksponensial.
2. jenis kelamin
wanita lebih sering terkena osteoartritis genu dan laki-laki lebih sering terkena
osteoartritis paha, pergelengan tangan dan leher. Secara keseluruhan,
dibawah usia 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki-laki
dan wanita, tetapi di atas usia 50 tahun setelah menopause frekuensi osteoartritis
lebih banyak pada wanita dibanding pria.
Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal
Dari 500 pasien dengan osteoartritis pada anggota badan,
ternyata 41,9% adalah penderita osteoartritis genu dan
jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki (1,3: 1).
3. pekerjaan
pekerjaan berat maupun pemakaian satu sendi yang terus-menerus berkaitan
dengan peningkatan risiko osteoartritis.Pekerjaan dan olah raga juga
merupakan faktor predisposisiosteoantrosis sendi lutut. Penelitian HANES I
mendapatkan bahwa pekerja yang banyak membebani sendi lutut akan
mempunyai risiko terserang osteoartritis genu lebih besar dibandingkan
pekerja yang tidak banyak membebani lutut.
4. kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya risiko
untuk timbul osteoartritis pada wanita maupun pria. Maquet berusaha
menjelaskan secara biomekanika beban yang diterima lutut pada obesitas.
Pada keadaan normal, gaya berat badan akan melalui medial sendi lutut dan
akan diimbangi oleh otot-otot paha bagian lateral sehingga resultannya akan
jatuh pada bagian sentral sendi lutut. Pada keadaan obesitas, resultan gaya
tersebut akan bergeser ke medial sehingga beban yang diterima sendi lutut
tidak seimbang. Pada keadaan yang berat dapat timbul perubahan bentuk
sendi menjadi varus yang akan makin menggeser resultan gaya tersebut ke
medial.
5. suku bangsa
prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis tampak berbeda
diantara masing-masing suku bangsa. osteoartritis genu lebih sering
ditemukan pada orang Asia, sedangkan osteoartritis panggul lebih sering pada
orang Kaukasia. osteoartritis paha lebih jarang pada kulit hitam dan asia
dibanding kaukasia. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup
maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.
Frekuensi osteoartritis genu pada wanita kulit hitam lebih tinggi dibandingkan
dengan pada wanita kulit putih, sedangkan pada laki-laki, frekuensi pada kulit
hitam sama dengan pada kulit putih.
6. genetik
adanya mutasi pada gen prokolagen II atau gen-gen struktural lain untuk unsur
- unsur tulang rawan seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau
proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya kecenderungan familial pada
osteoartritis.
7. faktor lain
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan risiko timbulnya osteoartritis.
Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak membantu
mengurangi benturan beban pada sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi
lebih mudah robek.
Faktor ini diduga berperan pada tingginya osteoartritis pada orang gemuk dan
pelari (yang umumnya mempunyai tulang yang lebih padat)
GAMBARAN KLINIK
Pada umumnya penderita osteoartritis mengatakan bahwa keluhan-keluhannya
sudah berlangsung lama, tetapi berkembang secara perlahan-lahan. Gejala
dapat berupa :
1. nyeri sendi
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri. Ada tiga tempat yang dapat
menjadi sumber nyeri, yaitu sinovium, jaringan lunak sendi dan tulang. Nyeri
sinovium dapat terjadi akibat reaksi radang yang timbul akibat adanya debris
dan kristal dalam cairan sendi. Selain itu juga dapat terjadi akibat kontak
dengan rawan sendi pada waktu sendi bergerak. Kerusakan pada jaringan
lunak sendi dapat menimbulkan nyeri, misalnya robekan ligamen dan kapsul
sendi, peradangan pada bursa atau kerusakan meniskus. Nyeri yang berasal
dari tulang biasanya akibat rangsangan pada periosteum karena periosteum
kaya akan serabut-serabut penerima nyeri.
Selain itu rasa nyeri dipengaruhi oleh keadaan psikologik pasien, sehingga
dianjurkan untuk melakukan evaluasi psikologik dalam penatalaksanaan
penderita osteoartrosis.
Nyeri pada osteoartritis genu, biasanya mempunyai irama diurnal, nyeri akan
menghebat pada waktu bangun tidur dan sore hari. Selain itu, nyeri juga dapat
timbul bila banyak berjalan, naik dan turun tangga atau bergerak tiba-tiba.
Nyeri yang belum lanjut biasanya akan hilang dengan istirahat, tetapi pada
keadaan lanjut, nyeri akan menetap walaupun penderita sudah istirahat.
2. hambatan gerak sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan
dengan bertambahnya rasa nyeri. Perubahan ini seringkali sudah ada
meskipun pada osteoartritis yang masih dini. Biasanya bertambah berat
dengan semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya bisa digoyangkan
dan menjadi kontraktur. Hambatan gerak dapat konsentris (seluruh arah gerakan)
maupun eksentris (salah satu arah gerakan saja).
3. kaku pagi
Kaku sendi merupakan gejala yang sering ditemukan, tetapi biasanya tidak
lebih dari 30 menit. Kaku sendi biasanya muncul pada pagi hari atau setelah
imobilitas seperti duduk di kursi atau mobil dalam waktu cukup lama atau
bahkan setelah bangun tidur.
4. krepitasi
Krepitasi berupa rasa gemeretak kadang-kadang dapat terdengar. Krepitus
dapat ditemukan tanpa disertai rasa nyeri, tapi biasanya berhubungan dengan
nyeri yang tumpul. Gejala ini mungkin timbul karena gesekan kedua
permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif
dimanipulasi.
5. pembengkakan sendi yang seringkali asimetris kadang-kadang ditemukan
pembengkakan sendi akibat efusi cairan sendi yang biasanya tak banyak.